Rabu, 03 Januari 2018

Dialog dua ulama besar yaitu Malik dan Syafi'i

Imam Malik berpendapat : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rizki, Hal ini berdasarkan hadist

{لَو أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا}
"Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan  berikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang" (HR. Ahmad dan yg lain).

Adapun Syafi'i berbeda dengan Imam Malik dalam hal ini, ia mengatakan bahwa seandainya burung itu tidak keluar dari sangkarnya dan pulang kembali niscaya tidak akan mendapat Rizki, artinya ia telah melakukan usaha.

Masing-masing bertahan pada pendapatnya...

Imam Malik mengambil potongan hadist (Niscaya kalian akan diberikan Rizki sebagaimana burung)...

sedangkan muridnya Asy Syafi'i mengambil sisi hadist (Kalau burung tidak keluar dari sangkarnya maka tidak akan mendapatkan rizki)...

Asy Syafi'i ingin memperkuat argumennya untuk sang guru, maka ia keluar meninggalkan Malik dalam keadaan berpikir, di tengah jalan ia mendapatkan orangtua sedang memikul plastik yang berisi sesuatu yang berat, lalu Syafi'i menawarkan diri untuk membawanya...

Wahai Paman, bolehkah aku membantumu Ujarnya, lalu Syafi'i memikul barang bawaan tersebut...

Tatkala sampai ke rumah orangtua itu, ia pun memberikan kepada Syafi'i beberapa biji kurma sebagai balas jasa kebaikannya...

Syafi'i bahagia karena telah mendapatkan ide untuk menguatkan pendapatnya, "seandainya aku tidak membantu orangtua tadi, niscaya orangtua itu tidak akan memberikan kurma ini kepadaku"...

Penuh kegirangan, ia pun bergegas menjumpai gurunya dengan membawa beberapa biji kurma tadi. Sesampainya di tempat Imam Malik, ia pun meletakkan kurma tersebut di hadapannya sembari menceritakan kisah yang terjadi...

Mendengar kisah yang diceritakan, Imam Malik pun tersenyum sambil mengambil kurma dan mencicipinya lalu mengatakan kepada Syafi'i, engkau telah membawa kurma ini kepadaku tanpa usaha dariku...

Kedua Imam yang mulia ini mengambil dua hukum yang berbeda dari hadist yang sama, ini merupakan keluasan rahmat Allah...

kisah ini bukan bermaksud utk meninggalkan usaha, oleh karena itu akan diceritakan kisah berikutnya...

Dalam sebuah perjalanan, Ibrahim bin Adham yg merupakan saudagar besar melihat seekor burung yg patah sayapnya, lalu ia dan kafilah yg bersamanya berhenti sejenak sambil memikirkan apakah ada yg memberi makanan utknya atau burung itu akan mati kelaparan, tdk lama kemudian tiba2 dtg seekor burung lain menempelkan mulutnya lalu menyuapi burung yg sakit itu...

Semenjak itu, Ibrahim bin Adham memutuskan utk meninggalkan semua perniagaannya dan fokus utk ibadah, hingga akhirnya Asy-Syibli mendengar berita ini dan mengataka : mengapa engkau tinggalkan perdagangan ini?
Ibrahim menjawab dgn menceritakan kisah burung tadi..

Asy-Syibli pun mengomentari dgn mengatakan : Wahai Ibrahim, mengapa engkau memilihi posisi burung yg lemah?
Mengapa engkau tdk memilih posisi burung yg memberi makanan?

Sepertinya Asy-Syibli ingin mengingatkan hadits :

{المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللَّهِ منَ المؤمن ِالضَّعيفِ ...}
"Orang beriman yg kuat lebih baik dan lebih Allah cintai dari org org mukmin yg lemah...} HR.Muslim

Betapa hebat pemahaman ini dan kemampuan mencerna pendapat org lain, tentunya selama (pendapat) tersebut dibenarkan secara syar'i.

Tulisan ini membuatku kagum, mungkin kalian juga. Selesai...

Kesimpulan
Ada rezeki yg datang tanpa melalui sebab, dan ada jg rezeki datang harus melaui perantara.

Tambahan penerjemah
√ Kita bangga menjadi umat islam karena kehebatan ulama-ulama kita dalam menggali hukum, disaat yg sama kitapun mudah berlapang dada ketika mendapatkan perbedaan diantara mereka, karena ulama Rabbani tidak pernah membuat hukum sesuai hawa nafsu mereka, sebaliknya mereka keluarkan semua potensi yg dimiliki utk islam

Selasa, 19 Desember 2017

TUGAS KITA HANYA MENGINGATKAN

belajar
Tugas kita hanya mengingtkan ibarat seoarang muadzin yang merupakan ajakan untuk sholat. Yang datang banyak alhamdulillah yang dtang satu tetapi disyukuri. Tugas kita hanya mengingatkan minimal kepada diri kita sendiri keluarga, dan saudara saudara kita. Kita taat akan selamat  kalau maksiat akan di laknat. Itu sudah menjadi rumus dan sesuai janjinya. Bismillah sepanjang ada kesempatan lakukan

BERDOA

Yaa Allah....
Bila hari  ini masih menjadi bagian hidup kami...
Berikanlah kemudahan dan kelancaran.

Bila rezeki yang Engkau turunkan masih ada bagian haq kami, datangkanlah dalam jumlah yg banyak, yg halalan thoyiban.

Ya Rabb...
Bila keluarga, saudara2, sahabat2 ku disini masih diperkenankan mewarnai kehidupan kami,
Jadikanlah mereka yang mengisi kehidupan dengan penuh kasih sayang, rukun dan damai selalu.

Angkat & hilangkanlah segala penyakit,segala persoalan2 semua keluarga, saudara2, sahabat2 ku ini, gantikanlah dgn kesehatan yg sempurna serta berikanlah sisa usia yg manfaat dan barokah.

Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin

KHITAN BAGIAN FITRAH

Dipun tenggo rawuhipun Jamaah Pengajian Ibadurrahman sedoyo, wonten ndalemipun Mas Rizam Yudinar acara syukuran khitanan adiknya Mas Rizam Yudinar, nuwun

Khitan termasuk fitrah yang disebutkan dalam hadits shahih. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

الفِطْرَةُ خَمْسُ : الخِتَانُ وَالاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima dari fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis”.

Di dalam Musnad Ahmad dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ”Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sebagian dari fitrah adalah: berkumur-kumur, istinsyaq (menghirup air dari hidung), mencukur kumis, siwak, memotong kuku, membersihkan lipatan pada badan, mencabut bulu ketiak, istihdad, khitan dan bersuci”.

pengajian khitanan

menyimak

SEMANGAT PERUBAHAN

Perubahan

Program menuju lebih baik... 40 hari non stop...
1. Tahajud
2. Tadarus
3. Jamaah 5 waktu
4. Dhuha
5. Sedekah
Tunaikan rutin istiqomah... insyaalloh... hidup lebih baik...
Aamiin.

Yen ono sing takon... kenapa 40 hari ... ?
Jawaben... janin nang rahim perubahane juga saben 40 hari...
40 hari nutfah
40 hari segumpal darah
40 hari segumpal daging
Kemudian ruh ditiupkan plus dicatat...
1. Umurnya
2. Rejekinya
3. Nasibnya
4. Ibadahnya

Maka tanyakan pada diri kita jika lelakone urip kawit beyen tekan saiki... kok gak juga beranjak baik... 40 hari terakhir... bagaimana sholat kita ?

Mas Bro...
Ayo bangkit... semangat... Bismillah...
👍

Kamis, 07 Desember 2017

SEDIH SENANG ITU UJIAN

Kemarin penagajian gabungan diadakan lagi di RW 1, Ustadz Saijan yang mengisi tadi malam. Para Jamaah dibuat tertawa. Ada juga hiburan sulap selip dari warga. Pada kesempatan itu pak saijan menjelaskan tentang Ujian. Kesenagan dan kesedihan adalah ujian yang diberikan Allah kepada kita untuk menguji keimanan kita. 
Sesungguhnya, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik amalannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2)


Read more http://pengusahamuslim.com/1975-kesusahan-dan-kenikmatan-sebagai-ujian.html
ustadz saijan
sualap selip
jamaah

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2)

Read more http://pengusahamuslim.com/1975-kesusahan-dan-kenikmatan-sebagai-ujian.html


Sesungguhnya, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan menguji mereka, agar nampak siapa yang paling baik amalannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Mulk: 2)


Read more http://pengusahamuslim.com/1975-kesusahan-dan-kenikmatan-sebagai-ujian.html